Daily Devational


Pdt. Alan Y. Parrangan
Gembala Sidang GPdI Bethesda Batam

Teladan Zakharia Lukas 1:5-16

Kisah imam Zakharia dan istrinya, Elisabet, pada zaman Raja Herodes, raja Yudea, adalah kisah tentang kesetiaan di tengah tantangan. Zakharia, dari rombongan Abia, dan Elisabet, keturunan Harun, merupakan teladan dalam karakter dan tanggung jawab.

1. Komitmen pada hidup yang benar Zakharia adalah seorang yang hidup benar, menuruti perintah Allah, bahkan hidup tidak bercacat di hadapan Tuhan. Ini ia pertahankan meskipun saat itu mereka belum dikaruniai keturunan, yang bisa menjadi alasan bagi mereka untuk meninggalkan Tuhan. Saat ini, banyak anak Tuhan mulai kehilangan hidup yang benar di hadapan Tuhan. Hal ini sering terjadi karena kita terpengaruh oleh lingkungan, melihat orang yang hidup tidak benar tetapi hidupnya baik-baik saja dan berkelimpahan. Pikiran ini bisa membawa kita pada pemikiran bahwa kerugian kita hidup dalam kebenaran Mazmur 73:3 “Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.” Namun, kita harus tetap berpegang pada kebenaran, karena mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia dan berharap akan kasih setia-Nya (Mazmur 33:18). Jika saat ini kita dalam keadaan tidak baik, tetaplah berpegang pada kebenaran karena janji Tuhan pasti akan tergenapi pada waktunya.

2. Bertanggung jawab dalam pelayanan Selain membangun kehidupan yang benar, Zakharia juga memegang teguh tanggung jawabnya. Ia ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan (Lukas 1:9). Ternyata, hidup benar saja tidak cukup jika kita mengabaikan tanggung jawab kepada Tuhan. Kepercayaan yang Tuhan percayakan di dalam pelayanan harus kita lakukan dengan penuh tanggung jawab. Salah satu tanggung jawab kita adalah: Apakah kita masih membangun mezbah doa dan penyembahan di hadapan Tuhan? Masihkah kita membangun hubungan pribadi dengan Tuhan? Jika hal-hal ini sudah hilang, kita sedang berada di luar perhatian Tuhan.

3. Pentingnya peran Roh Kudus Rutinitas ibadah dan kegiatan kerohanian akan menjadi sia-sia ketika tidak ada peran Roh Kudus di dalamnya. Yohanes Pembaptis, anak Zakharia, akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya (Lukas 1:15). Ini menekankan bahwa hidup yang benar dan tanggung jawab harus selalu diliputi dan dikuasai oleh Roh Kudus.

Beriman dengan Bersyukur - Mazmur 54

Konteks dalam mazmur ini adalah pengkhianatan orang-orang Zif. Dua kali mereka membocorkan keberadaan Daud kepada Raja Saul yang ingin menghabisi nyawa Daud (1Sam. 23:19-20, 26:1).

Hal yang paling menyakitkan hati Daud adalah orang-orang Zif sebenarnya merupakan bagian dari suku Yehuda (Yos. 15:24, 55), sama seperti Daud. Namun, mengingat perbuatan mereka, Daud menyamakan mereka dengan orang lalim yang tidak mengenal Allah (5).

Pada waktu nyawa Daud terancam akibat ulah mereka, ia hanya bisa pasrah. Tidak ada strategi yang dapat menyelamatkannya. Harapan Daud untuk tetap hidup hanya disandarkan pada nama Allah dan keadilan-Nya (3).

Dalam dua pengkhianatan orang Zif tersebut Allah menyelamatkan Daud secara ajaib (1Sam. 23:27-28, 26:7, 12). Bagaimana ia dapat membalas kebaikan dan pertolongan Allah yang dahsyat itu? Satu-satunya hal yang dapat ia lakukan adalah menjanjikan persembahan kurban syukur bila Allah menyelamatkan dia dari bahaya (8-9).

Sebuah teladan iman yang luar biasa kita terima dari mazmur ini. Meski penyelamatan Allah belum terjadi, Daud bersikap seakan-akan itu telah terjadi. Karena itu, ia berjanji akan mempersembahkan syukur kepada Allah. Mungkinkah kita memiliki keberanian dan keyakinan yang sama ketika kita bergumul dengan masalah-masalah kita saat ini?

Mungkin bisnis Anda terancam gulung tikar, mungkin seseorang mencoba merebut rumah Anda, mungkin Anda baru divonis kanker stadium lanjut, atau mungkin anak Anda sedang kritis di rumah sakit. Tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk mengubah situasi gawat tersebut. Beranikah Anda untuk terus berharap pada nama Allah dan keadilan-Nya?

Beriman adalah tindakan yang paling logis sebelum dan setelah tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Jangan beriman hanya supaya masalah-masalah Anda lenyap. Milikilah iman bahwa Anda akan kembali mempersembahkan syukur kepada Allah karena Ia akan melepaskan Anda dari kesesakan Anda. [PHM]

Butuh Penghiburan, Bukan Pembalasan Mazmur 55

Jika Allah berkehendak, maka tidak ada yang dapat lepas dari-Nya. Dalam perikop ini, kita dapat melihat bagaimana cara kerja Allah dalam memenuhi kehendak-Nya, sehingga pihak-pihak yang dikehendaki tak dapat lepas dari anugerah-Nya. Dalam hal ini, kita akan belajar dari tiga pihak yang disebutkan dalam perikop bacaan kali ini.

Pihak pertama adalah Saulus, seorang yang sangat bengis. Kebenciannya terhadap umat Tuhan begitu dalam (1-2). Akan tetapi, ketika Allah menginginkannya sebagai 'alat', Saulus yang begitu bengis itu pun tak dapat lepas dari-Nya (15-16). Dari hal ini, kita belajar mengenai satu prinsip tentang anugerah bahwa anugerah tidak dapat ditolak (irresistible grace).

Pihak kedua adalah jemaat Tuhan. Mereka adalah korban dari kebengisan Saulus. Akan tetapi, Tuhan Yesus tidak membiarkan mereka begitu saja tanpa penyertaan. Buktinya, Tuhan mengasosiasikan diri-Nya sendiri sebagai pihak yang teraniaya juga (4-5). Dari hal ini, kita belajar bahwa dalam kondisi apa pun Allah turut menyertai umat-Nya. Bahkan bukan hanya itu, Allah turut menderita bersama anak-anak-Nya.

Pihak ketiga adalah Ananias. Tuhan menghendakinya menjadi 'alat' untuk bertemu dan menyembuhkan Saulus yang mengalami kebutaan. Meski pada awalnya dia menolak untuk pergi dan menyembuhkan Saulus, pasalnya Saulus terkenal sebagai penganiaya jemaat (13), akan tetapi Ananias tak dapat lepas dari kehendak Allah. Allah menghendakinya sebagai 'alat' yang melayani seorang 'alat Tuhan' yang lainnya. Jadi, dia harus pergi!

Dari hal ini, kita belajar bahwa segala sesuatu ada dalam kendali Allah. Tidak ada seorang pun atau sesuatu apa pun yang dapat lepas dari kendali-Nya.

Dari ketiga pihak tersebut, kita pun dapat belajar tiga hal: Pertama, jangan menutup pintu anugerah bagi siapa pun. Sekalipun kelihatannya orang tersebut sangat bengis. Kedua, jangan takut dengan kesulitan kehidupan, Dia adalah Allah yang selalu menyertai. Ketiga, jadilah 'alat Tuhan' yang setia. 'Alat Tuhan' yang siap sedia melakukan apa pun tugas yang diberikan oleh-Nya. [YGM]

Tak Ada yang Dapat Lepas - Kisah Para Rasul 9:1-19

Jika Allah berkehendak, maka tidak ada yang dapat lepas dari-Nya. Dalam perikop ini, kita dapat melihat bagaimana cara kerja Allah dalam memenuhi kehendak-Nya, sehingga pihak-pihak yang dikehendaki tak dapat lepas dari anugerah-Nya. Dalam hal ini, kita akan belajar dari tiga pihak yang disebutkan dalam perikop bacaan kali ini.

Pihak pertama adalah Saulus, seorang yang sangat bengis. Kebenciannya terhadap umat Tuhan begitu dalam (1-2). Akan tetapi, ketika Allah menginginkannya sebagai 'alat', Saulus yang begitu bengis itu pun tak dapat lepas dari-Nya (15-16). Dari hal ini, kita belajar mengenai satu prinsip tentang anugerah bahwa anugerah tidak dapat ditolak (irresistible grace).

Pihak kedua adalah jemaat Tuhan. Mereka adalah korban dari kebengisan Saulus. Akan tetapi, Tuhan Yesus tidak membiarkan mereka begitu saja tanpa penyertaan. Buktinya, Tuhan mengasosiasikan diri-Nya sendiri sebagai pihak yang teraniaya juga (4-5). Dari hal ini, kita belajar bahwa dalam kondisi apa pun Allah turut menyertai umat-Nya. Bahkan bukan hanya itu, Allah turut menderita bersama anak-anak-Nya.

Pihak ketiga adalah Ananias. Tuhan menghendakinya menjadi 'alat' untuk bertemu dan menyembuhkan Saulus yang mengalami kebutaan. Meski pada awalnya dia menolak untuk pergi dan menyembuhkan Saulus, pasalnya Saulus terkenal sebagai penganiaya jemaat (13), akan tetapi Ananias tak dapat lepas dari kehendak Allah. Allah menghendakinya sebagai 'alat' yang melayani seorang 'alat Tuhan' yang lainnya. Jadi, dia harus pergi!

Dari hal ini, kita belajar bahwa segala sesuatu ada dalam kendali Allah. Tidak ada seorang pun atau sesuatu apa pun yang dapat lepas dari kendali-Nya.

Dari ketiga pihak tersebut, kita pun dapat belajar tiga hal: Pertama, jangan menutup pintu anugerah bagi siapa pun. Sekalipun kelihatannya orang tersebut sangat bengis. Kedua, jangan takut dengan kesulitan kehidupan, Dia adalah Allah yang selalu menyertai. Ketiga, jadilah 'alat Tuhan' yang setia. 'Alat Tuhan' yang siap sedia melakukan apa pun tugas yang diberikan oleh-Nya. [YGM]

Pertobatan Radikal Kisah Para Rasul 9:19-31

Kita sering memaknai kata radikal secara negatif. Padahal, radikal artinya mengakar/sampai ke akar. Dengan pengertian ini, seharusnya setiap anak Tuhan radikal dalam mencintai Tuhan.

Rasul Paulus mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Hal itu berdampak besar dalam hidupnya. Setelah disembuhkan oleh Tuhan melalui Ananias, saat itu juga dia memberitakan Yesus sebagai Anak Allah (20). Saulus tentu sudah tahu konsekuensi yang akan ditanggung olehnya. Bahkan konsekuensi tersebut langsung dirasakan olehnya, yakni orang-orang Yahudi mengincarnya dan ingin membunuhnya (23); di lain pihak, murid-murid Tuhan juga mencurigainya serta tidak memercayainya.

Akan tetapi, meskipun dia tahu betul risiko yang akan dia hadapi, dia dengan berani mengabarkan Injil Tuhan. Dari hal ini, kita belajar bahwa Tuhan dapat mengubah kehidupan seseorang secara radikal. Saulus yang dahulu 'radikal' dalam hal kebencian kepada orang Kristen, kini berbalik dan secara radikal menjadi pengikut Tuhan. Bahkan sampai akhir hidupnya, Saulus melayani Tuhan dengan setia. Melalui pelayanannya, Injil Tuhan menyebar secara pesat ke seluruh penjuru dunia.

Pertobatan pasti menghasilkan perubahan. Kata "pertobatan" sendiri mengandung arti berbalik, artinya berputar 180 derajat. Jika dahulu menghadap ke barat, maka kini berputar haluan ke timur. Jika dahulu mengejar dosa dan dunia, kini berputar arah kepada pengejaran terhadap Allah. Namun, selama kita masih hidup di dunia, kita masih bisa jatuh lagi ke dalam pencobaan dan berbuat dosa. Bagaimanapun juga, kita adalah manusia berdosa. Akan tetapi, pertobatan adalah komitmen untuk tidak lagi menikmati dosa. Pertobatan membuat kita sadar tentang dosa, bahkan membenci dosa. Selain itu, pertobatan seharusnya membawa kita menyenangi kehendak Allah dan pekerjaan Allah.

Oleh karena itu, kita perlu mengawasi diri agar pertobatan kita benar-benar menghasilkan perubahan. Adapun perubahan tersebut melingkupi: perubahan pikiran, perubahan tingkah laku, perubahan hati, dan perubahan perkataan. [YGM]

Tidak Bergantung pada Manusia Kisah Para Rasul 9:32-43

Tuhan kita adalah Allah yang menyejarah. Allah menyejarah melalui banyak mukjizat, bahkan saat ini pun mukjizat masih terjadi. Akan tetapi, kerap kali peristiwa mukjizat dimaknai secara keliru. Karena itu, penting untuk kita memaknai peristiwa mukjizat secara benar.

Ada dua prinsip utama dalam perikop ini terkait mukjizat yang dilakukan oleh Petrus. Pertama, mukjizat tidak bergantung pada manusia, baik sebagai fasilitator maupun sebagai penerima mukjizat. Pasalnya, tanpa fasilitator sekalipun, mukjizat tetap bisa terjadi. Bacaan hari ini juga menunjukkan bahwa penerima mukjizat bersifat pasif (35, 42) sebab tidak disertai keterangan yang menunjukkan keaktifan.

Dalam mukjizat pertama, Petrus berinisiatif menyembuhkan orang lumpuh (34). Kemudian, mukjizat kedua terjadi pada orang yang sudah mati (37). Meskipun kedua penerima mukjizat menunjukkan kepasifan, namun Allah memberikan kuasa kepada orang percaya (seperti Petrus) untuk menyatakan mukjizat. Pemberian kuasa itu berdasarkan kehendak Allah sendiri, bukan karena bergantung pada manusia.

Kedua, mukjizat dikerjakan oleh Allah, dari Allah, dan untuk kemuliaan Alah. Sekalipun Allah menggunakan manusia sebagai alat-Nya, mukjizat harus menuntun orang-orang kepada Allah, bukan mengagungkan manusia. Hal demikian sesuai dengan bacaan hari ini sebab dikatakan banyak orang berbalik dan percaya kepada Tuhan (35, 42). Kedua mukjizat tersebut datangnya dari inisiatif Allah, oleh kuasa Allah, melalui perantaraan Petrus, dan untuk kemuliaan Allah.

Dari kedua hal tersebut kita dapat belajar beberapa hal. Pertama, kita harus bersyukur karena kasih Allah yang tidak bersyarat. Pasalnya, jika kasih Allah menuntut adanya syarat, tak seorang pun di antara kita dapat memenuhi syarat tersebut. Kedua, ketika kita menerima berkat Allah, hal itu bukan berarti menjadikan kita lebih istimewa daripada orang lain. Pasalnya, semua itu adalah anugerah Allah semata. Ketiga, menerima mukjizat bermakna bahwa kita harus menempatkan Allah sebagai yang paling utama di dalam hidup kita. [YGM]

Berita Injil Bersifat Inklusif Kisah Para Rasul 10

Mengubah mindset seseorang bukanlah hal yang mudah. Apalagi, bila sudah mengakar secara turun-temurun. Pasal 10 menunjukkan adanya salah satu titik mula yang paling penting dalam sejarah gereja. Pada pasal inilah kita mendapatkan informasi tentang bagaimana Injil disebarkan ke seluruh dunia.

Tampak dalam pasal ini, Injil disebarkan ke tempat lain. Menariknya, orang-orang Yahudi pada masa itu sangatlah eksklusif. Mereka tidak menjalin relasi dalam bentuk apa pun dengan bangsa lain (28). Demikian pula Petrus, dalam penglihatannya mengenai makanan-makanan yang najis, tiga kali dia menolak perintah Tuhan (16). Dari generasi ke generasi, orang Yahudi, termasuk Petrus, tidak pernah makan makanan najis tersebut. Sangat sulit untuk mengubah mindset tersebut.

Demikian juga perihal penerimaan terhadap orang bukan Yahudi. Dari generasi ke generasi, mereka menolak bangsa lain, dan tidak menjalin relasi dengan bangsa lain. Mungkin, teologi orang Yahudi berpengaruh terhadap keyakinan bahwa Israel adalah bangsa istimewa yang dipilih menjadi umat Allah. Oleh karena itu, mereka pun heran ketika Allah mengasihi bangsa lain (34).

Kita dapat belajar tiga hal dari pasal ini. Pertama, umat pilihan Allah dimaknai secara rohani, bukan politis. Dengan pemahaman ini, barulah Injil dapat diberitakan ke seluruh dunia, bukan dimiliki secara eksklusif. Kedua, ikatan kesatuan, bukan ikatan darah, seperti Petrus menerima Kornelius karena iman yang sama. Ketiga, Yesus Kristus sebagai pusat kebenaran. Ketika Kornelius menerima karunia Roh Kudus, dan dibaptis, Petrus memberitakan dan memberikan kesaksian mengenai Yesus Kristus. Artinya, pusat kebenaran bukanlah Taurat, melainkan Injil Yesus Kristus.

Dapat kita simpulkan bahwa berita Injil bersifat inklusif. Oleh karena itu, kita harus mau memberitakan Injil kepada siapa pun, bukan hanya kepada suku tertentu. Selain itu, kita juga harus menghidupi kesatuan Kristen dalam perspektif kesatuan iman, bukan kesatuan suku tertentu. [YGM]

Worship Schedule

Join us this Sunday for a meaningful time of worship, prayer, and the Word. Come as you are and be refreshed, encouraged, and strengthened in faith.
- Sunday 8.00 am at Bethesda Center
- Sunday 7.00 pm at Legenda Malaka

Sector Worship is an extension of the main church, created to ensure every member feels involved, connected, and growing in faith within a smaller, more personal community, in line with GPdI’s mission to share the Gospel and empower believers. It consists of three sectors:
- Sektor Abraham
- Sektor Ishak
- Sektor Yakub.
Every Wednesday in the 2nd and 4th weeks of the month

Home Worship is a more intimate gathering held in homes or small settings, focused on praise, worship, prayer, and the sharing of God’s Word. It provides a personal space for believers to connect deeply with God and grow together in faith.
Every Tuesday 7 pm

PELPRIP (Pelayanan Pria Pantekosta) is a fellowship for men that focuses on strengthening faith, encouraging active service, and equipping men to be godly examples in their families, the church, and the wider community through worship, fellowship, and spiritual development activities.
Every Wednesday 7 pm - Legenda Malaka

PELWAP (Pelayanan Wanita Pantekosta) The Women’s Ministry is a dedicated service designed to nurture spiritual growth, encourage fellowship, and develop the gifts and potential of women. Through worship, teaching, and ministry programs, it equips women to serve faithfully in the church, strengthen their families, and make a positive impact in the community.
Every Friday 6 pm - Legenda Malaka

PELPAP (Pelayanan Pemuda Pantekosta) is a vibrant platform for young believers to grow in faith, leadership, and Christian fellowship. We are dedicated to nurturing a generation that is spiritually grounded and ready to make a positive impact in the church and society.
Every Saturday 7 pm - Legenda Malaka

PELRAP (Pelayanan Pemuda Remaja Pantekosta) is a fellowship for men that focuses on strengthening faith, encouraging active service, and equipping men to be godly examples in their families, the church, and the wider community through worship, fellowship, and spiritual development activities.
Every Wednesday 7 pm - Legenda Malaka

PELNAP (Pelayanan Anak Pantekosta) is a fellowship for men that focuses on strengthening faith, encouraging active service, and equipping men to be godly examples in their families, the church, and the wider community through worship, fellowship, and spiritual development activities.
Every Wednesday 7 pm - Legenda Malaka

PELKAM (Pelayanan Keluarga Muda) is a fellowship for men that focuses on strengthening faith, encouraging active service, and equipping men to be godly examples in their families, the church, and the wider community through worship, fellowship, and spiritual development activities.
Every Wednesday 7 pm - Legenda Malaka

First time with us?

Learn more about our church.You’re part of the family