Pdt. Alan Y. Parrangan
Gembala Sidang GPdI Bethesda Batam
Kisah imam Zakharia dan istrinya, Elisabet, pada zaman Raja Herodes, raja Yudea,
adalah kisah tentang kesetiaan di tengah tantangan. Zakharia, dari rombongan Abia,
dan Elisabet, keturunan Harun, merupakan teladan dalam karakter dan tanggung jawab.
1. Komitmen pada hidup yang benar
Zakharia adalah seorang yang hidup benar, menuruti perintah Allah, bahkan hidup tidak
bercacat di hadapan Tuhan. Ini ia pertahankan meskipun saat itu mereka belum
dikaruniai keturunan, yang bisa menjadi alasan bagi mereka untuk meninggalkan
Tuhan. Saat ini, banyak anak Tuhan mulai kehilangan hidup yang benar di hadapan
Tuhan. Hal ini sering terjadi karena kita terpengaruh oleh lingkungan, melihat orang
yang hidup tidak benar tetapi hidupnya baik-baik saja dan berkelimpahan. Pikiran ini
bisa membawa kita pada pemikiran bahwa kerugian kita hidup dalam kebenaran
Mazmur 73:3 “Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat
kemujuran orang-orang fasik.”
Namun, kita harus tetap berpegang pada kebenaran, karena mata Tuhan tertuju kepada
mereka yang takut akan Dia dan berharap akan kasih setia-Nya (Mazmur 33:18). Jika
saat ini kita dalam keadaan tidak baik, tetaplah berpegang pada kebenaran karena janji
Tuhan pasti akan tergenapi pada waktunya.
2. Bertanggung jawab dalam pelayanan
Selain membangun kehidupan yang benar, Zakharia juga memegang teguh tanggung
jawabnya. Ia ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan (Lukas
1:9). Ternyata, hidup benar saja tidak cukup jika kita mengabaikan tanggung jawab
kepada Tuhan. Kepercayaan yang Tuhan percayakan di dalam pelayanan harus kita
lakukan dengan penuh tanggung jawab. Salah satu tanggung jawab kita adalah:
Apakah kita masih membangun mezbah doa dan penyembahan di hadapan Tuhan?
Masihkah kita membangun hubungan pribadi dengan Tuhan?
Jika hal-hal ini sudah hilang, kita sedang berada di luar perhatian Tuhan.
3. Pentingnya peran Roh Kudus
Rutinitas ibadah dan kegiatan kerohanian akan menjadi sia-sia ketika tidak ada peran
Roh Kudus di dalamnya. Yohanes Pembaptis, anak Zakharia, akan penuh dengan Roh
Kudus sejak dari rahim ibunya (Lukas 1:15). Ini menekankan bahwa hidup yang benar
dan tanggung jawab harus selalu diliputi dan dikuasai oleh Roh Kudus.
Konteks dalam mazmur ini adalah pengkhianatan orang-orang Zif. Dua kali mereka
membocorkan keberadaan Daud kepada Raja Saul yang ingin menghabisi nyawa
Daud (1Sam. 23:19-20, 26:1).
Hal yang paling menyakitkan hati Daud adalah orang-orang Zif sebenarnya
merupakan bagian dari suku Yehuda (Yos. 15:24, 55), sama seperti Daud. Namun,
mengingat perbuatan mereka, Daud menyamakan mereka dengan orang lalim yang
tidak mengenal Allah (5).
Pada waktu nyawa Daud terancam akibat ulah mereka, ia hanya bisa pasrah. Tidak
ada strategi yang dapat menyelamatkannya. Harapan Daud untuk tetap hidup
hanya disandarkan pada nama Allah dan keadilan-Nya (3).
Dalam dua pengkhianatan orang Zif tersebut Allah menyelamatkan Daud secara
ajaib (1Sam. 23:27-28, 26:7, 12). Bagaimana ia dapat membalas kebaikan dan
pertolongan Allah yang dahsyat itu? Satu-satunya hal yang dapat ia lakukan
adalah menjanjikan persembahan kurban syukur bila Allah menyelamatkan dia dari
bahaya (8-9).
Sebuah teladan iman yang luar biasa kita terima dari mazmur ini. Meski
penyelamatan Allah belum terjadi, Daud bersikap seakan-akan itu telah terjadi.
Karena itu, ia berjanji akan mempersembahkan syukur kepada Allah. Mungkinkah
kita memiliki keberanian dan keyakinan yang sama ketika kita bergumul dengan
masalah-masalah kita saat ini?
Mungkin bisnis Anda terancam gulung tikar, mungkin seseorang mencoba merebut
rumah Anda, mungkin Anda baru divonis kanker stadium lanjut, atau mungkin
anak Anda sedang kritis di rumah sakit. Tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk
mengubah situasi gawat tersebut. Beranikah Anda untuk terus berharap pada
nama Allah dan keadilan-Nya?
Beriman adalah tindakan yang paling logis sebelum dan setelah tidak ada lagi yang
bisa kita lakukan. Jangan beriman hanya supaya masalah-masalah Anda lenyap.
Milikilah iman bahwa Anda akan kembali mempersembahkan syukur kepada Allah
karena Ia akan melepaskan Anda dari kesesakan Anda. [PHM]
Jika Allah berkehendak, maka tidak ada yang dapat lepas dari-Nya. Dalam perikop
ini, kita dapat melihat bagaimana cara kerja Allah dalam memenuhi kehendak-Nya,
sehingga pihak-pihak yang dikehendaki tak dapat lepas dari anugerah-Nya. Dalam
hal ini, kita akan belajar dari tiga pihak yang disebutkan dalam perikop bacaan kali
ini.
Pihak pertama adalah Saulus, seorang yang sangat bengis. Kebenciannya terhadap
umat Tuhan begitu dalam (1-2). Akan tetapi, ketika Allah menginginkannya sebagai
'alat', Saulus yang begitu bengis itu pun tak dapat lepas dari-Nya (15-16). Dari hal
ini, kita belajar mengenai satu prinsip tentang anugerah bahwa anugerah tidak
dapat ditolak (irresistible grace).
Pihak kedua adalah jemaat Tuhan. Mereka adalah korban dari kebengisan Saulus.
Akan tetapi, Tuhan Yesus tidak membiarkan mereka begitu saja tanpa penyertaan.
Buktinya, Tuhan mengasosiasikan diri-Nya sendiri sebagai pihak yang teraniaya
juga (4-5). Dari hal ini, kita belajar bahwa dalam kondisi apa pun Allah turut
menyertai umat-Nya. Bahkan bukan hanya itu, Allah turut menderita bersama
anak-anak-Nya.
Pihak ketiga adalah Ananias. Tuhan menghendakinya menjadi 'alat' untuk bertemu
dan menyembuhkan Saulus yang mengalami kebutaan. Meski pada awalnya dia
menolak untuk pergi dan menyembuhkan Saulus, pasalnya Saulus terkenal sebagai
penganiaya jemaat (13), akan tetapi Ananias tak dapat lepas dari kehendak Allah.
Allah menghendakinya sebagai 'alat' yang melayani seorang 'alat Tuhan' yang
lainnya. Jadi, dia harus pergi!
Dari hal ini, kita belajar bahwa segala sesuatu ada dalam kendali Allah. Tidak ada
seorang pun atau sesuatu apa pun yang dapat lepas dari kendali-Nya.
Dari ketiga pihak tersebut, kita pun dapat belajar tiga hal: Pertama, jangan
menutup pintu anugerah bagi siapa pun. Sekalipun kelihatannya orang tersebut
sangat bengis. Kedua, jangan takut dengan kesulitan kehidupan, Dia adalah Allah
yang selalu menyertai. Ketiga, jadilah 'alat Tuhan' yang setia. 'Alat Tuhan' yang
siap sedia melakukan apa pun tugas yang diberikan oleh-Nya. [YGM]
Jika Allah berkehendak, maka tidak ada yang dapat lepas dari-Nya. Dalam perikop
ini, kita dapat melihat bagaimana cara kerja Allah dalam memenuhi kehendak-Nya,
sehingga pihak-pihak yang dikehendaki tak dapat lepas dari anugerah-Nya. Dalam
hal ini, kita akan belajar dari tiga pihak yang disebutkan dalam perikop bacaan kali
ini.
Pihak pertama adalah Saulus, seorang yang sangat bengis. Kebenciannya terhadap
umat Tuhan begitu dalam (1-2). Akan tetapi, ketika Allah menginginkannya sebagai
'alat', Saulus yang begitu bengis itu pun tak dapat lepas dari-Nya (15-16). Dari hal
ini, kita belajar mengenai satu prinsip tentang anugerah bahwa anugerah tidak
dapat ditolak (irresistible grace).
Pihak kedua adalah jemaat Tuhan. Mereka adalah korban dari kebengisan Saulus.
Akan tetapi, Tuhan Yesus tidak membiarkan mereka begitu saja tanpa penyertaan.
Buktinya, Tuhan mengasosiasikan diri-Nya sendiri sebagai pihak yang teraniaya
juga (4-5). Dari hal ini, kita belajar bahwa dalam kondisi apa pun Allah turut
menyertai umat-Nya. Bahkan bukan hanya itu, Allah turut menderita bersama
anak-anak-Nya.
Pihak ketiga adalah Ananias. Tuhan menghendakinya menjadi 'alat' untuk bertemu
dan menyembuhkan Saulus yang mengalami kebutaan. Meski pada awalnya dia
menolak untuk pergi dan menyembuhkan Saulus, pasalnya Saulus terkenal sebagai
penganiaya jemaat (13), akan tetapi Ananias tak dapat lepas dari kehendak Allah.
Allah menghendakinya sebagai 'alat' yang melayani seorang 'alat Tuhan' yang
lainnya. Jadi, dia harus pergi!
Dari hal ini, kita belajar bahwa segala sesuatu ada dalam kendali Allah. Tidak ada
seorang pun atau sesuatu apa pun yang dapat lepas dari kendali-Nya.
Dari ketiga pihak tersebut, kita pun dapat belajar tiga hal: Pertama, jangan
menutup pintu anugerah bagi siapa pun. Sekalipun kelihatannya orang tersebut
sangat bengis. Kedua, jangan takut dengan kesulitan kehidupan, Dia adalah Allah
yang selalu menyertai. Ketiga, jadilah 'alat Tuhan' yang setia. 'Alat Tuhan' yang
siap sedia melakukan apa pun tugas yang diberikan oleh-Nya. [YGM]
Kita sering memaknai kata radikal secara negatif. Padahal, radikal artinya
mengakar/sampai ke akar. Dengan pengertian ini, seharusnya setiap anak Tuhan
radikal dalam mencintai Tuhan.
Rasul Paulus mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Hal itu berdampak besar
dalam hidupnya. Setelah disembuhkan oleh Tuhan melalui Ananias, saat itu juga
dia memberitakan Yesus sebagai Anak Allah (20). Saulus tentu sudah tahu
konsekuensi yang akan ditanggung olehnya. Bahkan konsekuensi tersebut langsung
dirasakan olehnya, yakni orang-orang Yahudi mengincarnya dan ingin
membunuhnya (23); di lain pihak, murid-murid Tuhan juga mencurigainya serta
tidak memercayainya.
Akan tetapi, meskipun dia tahu betul risiko yang akan dia hadapi, dia dengan
berani mengabarkan Injil Tuhan. Dari hal ini, kita belajar bahwa Tuhan dapat
mengubah kehidupan seseorang secara radikal. Saulus yang dahulu 'radikal' dalam
hal kebencian kepada orang Kristen, kini berbalik dan secara radikal menjadi
pengikut Tuhan. Bahkan sampai akhir hidupnya, Saulus melayani Tuhan dengan
setia. Melalui pelayanannya, Injil Tuhan menyebar secara pesat ke seluruh penjuru
dunia.
Pertobatan pasti menghasilkan perubahan. Kata "pertobatan" sendiri mengandung
arti berbalik, artinya berputar 180 derajat. Jika dahulu menghadap ke barat, maka
kini berputar haluan ke timur. Jika dahulu mengejar dosa dan dunia, kini berputar
arah kepada pengejaran terhadap Allah. Namun, selama kita masih hidup di dunia,
kita masih bisa jatuh lagi ke dalam pencobaan dan berbuat dosa. Bagaimanapun
juga, kita adalah manusia berdosa. Akan tetapi, pertobatan adalah komitmen untuk
tidak lagi menikmati dosa. Pertobatan membuat kita sadar tentang dosa, bahkan
membenci dosa. Selain itu, pertobatan seharusnya membawa kita menyenangi
kehendak Allah dan pekerjaan Allah.
Oleh karena itu, kita perlu mengawasi diri agar pertobatan kita benar-benar
menghasilkan perubahan. Adapun perubahan tersebut melingkupi: perubahan
pikiran, perubahan tingkah laku, perubahan hati, dan perubahan perkataan. [YGM]
Tuhan kita adalah Allah yang menyejarah. Allah menyejarah melalui banyak
mukjizat, bahkan saat ini pun mukjizat masih terjadi. Akan tetapi, kerap kali
peristiwa mukjizat dimaknai secara keliru. Karena itu, penting untuk kita memaknai
peristiwa mukjizat secara benar.
Ada dua prinsip utama dalam perikop ini terkait mukjizat yang dilakukan oleh
Petrus. Pertama, mukjizat tidak bergantung pada manusia, baik sebagai fasilitator
maupun sebagai penerima mukjizat. Pasalnya, tanpa fasilitator sekalipun, mukjizat
tetap bisa terjadi. Bacaan hari ini juga menunjukkan bahwa penerima mukjizat
bersifat pasif (35, 42) sebab tidak disertai keterangan yang menunjukkan keaktifan.
Dalam mukjizat pertama, Petrus berinisiatif menyembuhkan orang lumpuh (34).
Kemudian, mukjizat kedua terjadi pada orang yang sudah mati (37). Meskipun
kedua penerima mukjizat menunjukkan kepasifan, namun Allah memberikan kuasa
kepada orang percaya (seperti Petrus) untuk menyatakan mukjizat. Pemberian
kuasa itu berdasarkan kehendak Allah sendiri, bukan karena bergantung pada
manusia.
Kedua, mukjizat dikerjakan oleh Allah, dari Allah, dan untuk kemuliaan Alah.
Sekalipun Allah menggunakan manusia sebagai alat-Nya, mukjizat harus menuntun
orang-orang kepada Allah, bukan mengagungkan manusia. Hal demikian sesuai
dengan bacaan hari ini sebab dikatakan banyak orang berbalik dan percaya kepada
Tuhan (35, 42). Kedua mukjizat tersebut datangnya dari inisiatif Allah, oleh kuasa
Allah, melalui perantaraan Petrus, dan untuk kemuliaan Allah.
Dari kedua hal tersebut kita dapat belajar beberapa hal. Pertama, kita harus
bersyukur karena kasih Allah yang tidak bersyarat. Pasalnya, jika kasih Allah
menuntut adanya syarat, tak seorang pun di antara kita dapat memenuhi syarat
tersebut. Kedua, ketika kita menerima berkat Allah, hal itu bukan berarti
menjadikan kita lebih istimewa daripada orang lain. Pasalnya, semua itu adalah
anugerah Allah semata. Ketiga, menerima mukjizat bermakna bahwa kita harus
menempatkan Allah sebagai yang paling utama di dalam hidup kita. [YGM]
Mengubah mindset seseorang bukanlah hal yang mudah. Apalagi, bila sudah
mengakar secara turun-temurun.
Pasal 10 menunjukkan adanya salah satu titik mula yang paling penting dalam
sejarah gereja. Pada pasal inilah kita mendapatkan informasi tentang bagaimana
Injil disebarkan ke seluruh dunia.
Tampak dalam pasal ini, Injil disebarkan ke tempat lain. Menariknya, orang-orang
Yahudi pada masa itu sangatlah eksklusif. Mereka tidak menjalin relasi dalam
bentuk apa pun dengan bangsa lain (28). Demikian pula Petrus, dalam
penglihatannya mengenai makanan-makanan yang najis, tiga kali dia menolak
perintah Tuhan (16). Dari generasi ke generasi, orang Yahudi, termasuk Petrus,
tidak pernah makan makanan najis tersebut. Sangat sulit untuk mengubah mindset
tersebut.
Demikian juga perihal penerimaan terhadap orang bukan Yahudi. Dari generasi ke
generasi, mereka menolak bangsa lain, dan tidak menjalin relasi dengan bangsa
lain. Mungkin, teologi orang Yahudi berpengaruh terhadap keyakinan bahwa Israel
adalah bangsa istimewa yang dipilih menjadi umat Allah. Oleh karena itu, mereka
pun heran ketika Allah mengasihi bangsa lain (34).
Kita dapat belajar tiga hal dari pasal ini. Pertama, umat pilihan Allah dimaknai
secara rohani, bukan politis. Dengan pemahaman ini, barulah Injil dapat
diberitakan ke seluruh dunia, bukan dimiliki secara eksklusif. Kedua, ikatan
kesatuan, bukan ikatan darah, seperti Petrus menerima Kornelius karena iman yang
sama. Ketiga, Yesus Kristus sebagai pusat kebenaran. Ketika Kornelius menerima
karunia Roh Kudus, dan dibaptis, Petrus memberitakan dan memberikan kesaksian
mengenai Yesus Kristus. Artinya, pusat kebenaran bukanlah Taurat, melainkan Injil
Yesus Kristus.
Dapat kita simpulkan bahwa berita Injil bersifat inklusif. Oleh karena itu, kita harus
mau memberitakan Injil kepada siapa pun, bukan hanya kepada suku tertentu.
Selain itu, kita juga harus menghidupi kesatuan Kristen dalam perspektif kesatuan
iman, bukan kesatuan suku tertentu. [YGM]
Join us this Sunday for a meaningful time of worship, prayer, and the Word.
Come as you are and be refreshed, encouraged, and strengthened in faith.
- Sunday 8.00 am at Bethesda Center
- Sunday 7.00 pm at Legenda Malaka
Sector Worship is an extension of the main church, created to ensure every member feels involved, connected, and growing in faith within a smaller, more personal community, in line with GPdI’s mission to share the Gospel and empower believers. It consists of three sectors:
- Sektor Abraham
- Sektor Ishak
- Sektor Yakub.
Every Wednesday in the 2nd and 4th weeks of the month
Home Worship is a more intimate gathering held in homes or small settings, focused on praise, worship, prayer, and the sharing of God’s Word. It provides a personal space for believers to connect deeply with God and grow together in faith.
Every Tuesday 7 pm
PELPRIP (Pelayanan Pria Pantekosta) is a fellowship for men that focuses on strengthening faith, encouraging active service, and equipping men to be godly examples in their families, the church, and the wider community through worship, fellowship, and spiritual development activities.
Every Wednesday 7 pm - Legenda Malaka
PELWAP (Pelayanan Wanita Pantekosta) The Women’s Ministry is a dedicated service designed to nurture spiritual growth, encourage fellowship, and develop the gifts and potential of women. Through worship, teaching, and ministry programs, it equips women to serve faithfully in the church, strengthen their families, and make a positive impact in the community.
Every Friday 6 pm - Legenda Malaka
PELPAP (Pelayanan Pemuda Pantekosta) is a vibrant platform for young believers to grow in faith, leadership, and Christian fellowship. We are dedicated to nurturing a generation that is spiritually grounded and ready to make a positive impact in the church and society.
Every Saturday 7 pm - Legenda Malaka
PELRAP (Pelayanan Pemuda Remaja Pantekosta) is a fellowship for men that focuses on strengthening faith, encouraging active service, and equipping men to be godly examples in their families, the church, and the wider community through worship, fellowship, and spiritual development activities.
Every Wednesday 7 pm - Legenda Malaka
PELNAP (Pelayanan Anak Pantekosta) is a fellowship for men that focuses on strengthening faith, encouraging active service, and equipping men to be godly examples in their families, the church, and the wider community through worship, fellowship, and spiritual development activities.
Every Wednesday 7 pm - Legenda Malaka
PELKAM (Pelayanan Keluarga Muda) is a fellowship for men that focuses on strengthening faith, encouraging active service, and equipping men to be godly examples in their families, the church, and the wider community through worship, fellowship, and spiritual development activities.
Every Wednesday 7 pm - Legenda Malaka